Kamis, 14 Februari 2013

Inspirasi dari Ibnu Batuttah


Pagi, setelah bangun tidur dan mengerjakan beberapa kewajiban aku melihat suatu kisah menarik di televisi. Kisah tentang seorang pengelana yang menjelajahi dunia. Di kisah itu, terdapat beberapa gambaran perjalanan di berbagai negara, seperti China, Mesir bahkan cerita tentang Indonesia ada juga. Sang pengelana yang berasal dari negeri timur tengah itu mengelana berawal dari perintah raja agar menjelajahi dunia untuk mengetahui keadaan dunia waktu itu, yang diilhami dari ayat kitab suci yang menganjurkan agar kita berkelana di muka bumi. Sang pengelana itu adalah Ibnu Batuttah.
Kisah Ibnu Batuttah di televisi pagi itu cukup menarik minat saya, karena di film favorit saya, Negeri  5 Menara,  terdapat kisah tentang beliau yang digambarkan menarik, sehingga semakin tergugah rasa penasaranku untuk mengenal lebih jauh tentang beliau. Beliau menjelajahi dunia selama kurang lebih 30 tahun. Daerah pengelanaan beliau dari benua Asia, Eropa bahkan Afrika. Di salah satu bagian cerita, diceritakan bahwa beliau pernah mengunjungi wilayah Indonesia, tepatnya di Aceh yang pada saat itu wilayah Aceh dikuasai oleh kerajaan Samudera Pasai. Petualangan beliau keliling dunia ini menggugah diriku pada suatu saat nanti untuk melakukan perjalanan keliling dunia. Dan insyaAllah Man Jadda wa Jadda, insyaAllah akan berusaha keras agar diwujudkan. Aamiin.
By the way, kalau mengingat Ibnu Batuttah maka akan mengingat tentang sejarah masa lampau. Setiap kebenaran pasti ada buktinya, dan untuk membuktikan kebenaran sejarah dibutuhkan bukti otentik berupa tulisan yang mengkisahkan tentang hal itu. Di sepanjang perjalanan yang Ibnu Batuttah lalui, beliau membuat catatan hasil berkelananya untuk kemudian diserahkan kepada raja yang memerintahkannya berkelana dahulu. Dalam catatan itu, tercatat keadaan daerah yang dikunjunginya, penduduk, budaya, sistem pemerintahan dan lain-lain. Siapa sangka, ternyata tulisan beliau selama perjalanan itu pada akhirnya menjadi suatu sumber sejarah dunia pada masa sekarang. Catatan itu menjadi sumber sejarah dunia otentik dan dipercaya kebenarannya.
Hal tersebut memberikan makna, bahwa suatu keadaan atau peristiwa, ilmu atau apapun akan menjadi lebih berharga dan bermakna apabila ditulis. Seperti dalam salah satu quote favorit saya yang berasal dari Ali bin Abi Thalib, “ikatlah ilmu dengan menulis”, dengan menulis kita akan menjadikan ilmu lebih kekal manfaatnya. Dengan tulisan itu kita akan tetap mampu menyuarakan aspirasi kita sepanjang masa (selagi tulisan kita masih ada), walaupun kita sudah tiada atau tidak berjumpa langsung dengan pembaca di masa depan kelak.
Sesuai dengan sifat manusia yaitu mudah lupa, apabila ia tidak menulis ilmu yang sekarang ia dapatkan besar kemungkinan ia akan lupa apabila ditanyakan kembali ilmu tersebut di waktu selanjutnya. Sebaliknya apabila ia menulisnya, maka pada akhirnya ilmu yang ia dapatkan itu akan dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain, karena tulisan itu dapat dibaca oleh siapapun juga. Sehingga sebagai seorang pelajar sudah seharusnya kita gemar menulis
Bagi sebagian orang menulis itu mungkin susah, sebagian orang lagi menganggap menulis itu mudah dan menyenangkan. Namun sesulit apapun menulis itu, jika kita mau berusaha untuk memulai dan belajar menulis insyaAllah akan bisa menulis dengan baik. Pada awalnya dulu saya juga tidak begitu suka menulis, namun ada beberapa hal yang membuat saya menjadi suka menulis. Hal pertama adalah ketika mengerti dan membaca-baca profil kakak inspirator saya di facebook, eits kakak saya ini seorang perempuan lho ia gemar menulis dan seringkali update status atau profpict untuk menjadi seorang penulis,  memang dari dulu saya mengagumi mbak saya ini akhirnya saya mulai suka menulis. Kemudian saat mengetahui manfaat menulis lebih lanjut, sehingga semakin memotivasi untuk menulis. Faktor orang yang kita favoritkan berpengaruh pada diri kita, kita akan lebih mudah meniru perilaku mereka dibandingkan meniru orang lain yang tidak kita sukai. Jadi teman-teman kalau memilih seseorang yang disukai, milih yang baik sekalian ya, baik akhlaknya perilaku, dan juga aqidahnya. Sehingga semakin mudah bagi kita untuk berbuat kebaikan.
Kalau kawan-kawan masih bingung bagaimana agar membuat tulisan yang baik, mulailah dengan mencoba menulis yang ringan, seperti menulis buku harian, catatan sekolah, maupun catatan kejadian sehari-hari yang berkesan dan tidak berkesan dalam beberapa hari ini. Menulisnya dengan santai saja dan tidak usah ada perasaan takut salah menulis. Tulislah semua kata-kata yang terlintas dalam pikiran. Hal yang paling utama dalam menulis  adalah perasaan nyaman. Dari perasaan nyaman itu, secara tidak langsung semakin banyak hal yang kita tulis, sehingga apabila kenyamanan itu terus berlanjut mulailah kita merasa jatuh cinta dengan dunia menulis. Pada awalnya dulu saya juga ogah-ogahan menulis, rasanya semangat menggebu-gebu untuk menulis, tetapi setelah nulis beberapa kalimat sudah hilang semangat karena bingung bagaimana kata-kata untuk melanjutkannya. Jadi menulis jangan terlalu perfeksionis harus begini-begitu, alirkanlah kata-kata yang terlewat dalam pikiran, dan yang penting lagi konsisten untuk melanjutkannya sampai akhir.
Setelah selesai menulis, cobalah baca ulang tulisanmu. Saat membaca-baca ulang baru lakukan proses editing. Pengoreksian ejaan, penempatan kata, penambahan atau pengurangan kata serta pembenahan struktur kalimat dari tulisanmu itu. Cobalah untuk melakukannya secara rutin setiap hari. Karena insyaAllah sesuatu yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan, dan kita akan semakin ketagihan untuk menulis. Seperti dengan proses belajar conditioning, suatu kegiatan yang berulang-ulang akan menjadi suatu kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan. Jika sudah menjadi kebiasaan akan menjadi perilaku dan sifat, jika suka menulis sudah menjadi sifat, maka akan mudah bagi kita untuk menjadi penulis yang produktif. Maka dari itu, mari mulai menulis!
Dari tulisan sederhana sehari-hari itu, siapa tahu tulisan itu bermanfaat bagi dirimu kelak. Barangkali kamu lupa akan pengalaman masa lalumu, kemudian saat kamu baca tulisanmu itu bisa kamu jadikan bahan untuk bercerita kepada anak-anakmu kelak sebagai bahan pelajaran. Atau mungkin bisa bermanfaat bagi orang di sekelilingmu kelak seperti catatan Ibnu Batuttah yang kemudian menjadi sumber sejarah di masa depan.
Setelah berhasil menulis pengalaman sehari-hari dengan baik, biasanya akan ada perasaan untuk ingin memulai menulis hal-hal yang agak berat, seperti pandanganmu terhadap suatu permasalahan, tips-tips, pengetahuan, dan lain sebagainya. Yap, menulis itu suatu proses. Dimulai dari tingkat rendah menuju ke atas. Dari awalnya tidak suka, akan menjadi suka. Ingat pula Man jadda wa jadda, siapa yang bersungguh-sungguh insyaAllah akan berhasil. Jika kita mau bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu, terlebih adalah menulis insyaAllah kita akan menjadi seorang yang ahli dalam menulis. Dari menulis cerita sehari-hari yang hanya beberapa lembar, siapa tahu nanti akan berkembang menjadi menulis buku yang halamannya beratus dan beribu lembar.
Oia kawan, kualitas bangsa itu dapat dilihat dari berapa banyak buku yang diterbitkan dalam negara itu lho. Jumlah buku itu nantinya dibandingkan dengan jumlah penduduk, sehingga didapatkan suatu perbandingan jumlah buku per penduduk. Mengapa kualitas negara ditentukan dari banyaknya jumlah buku? Hal ini dikarenakan buku adalah sumber pengetahuan. Buku adalah jendela ilmu dan pengetahuan sehingga orang yang menulis buku mestilah orang yang berkualitas dalam bidang pengetahuan itu. Orang yang mampu menulis buku, berarti juga mampu untuk mengutarakan pemikiran cemerlangnya untuk diketahui orang-orang di sekitarnya. Apabila tulisannya itu mampu menggerakkan orang lain, maka orang lain akan berusaha paling tidak melakukan apa yang ada dalam buku itu. Kemajuan bangsa akan semakin mudah dicapai, karena semakin banyaknya orang yang berkualitas yang pada akhirnya menggerakkan penduduk lainnya dalam beraktivitas dan bekerja dengan landasan yang benar dan teruji kebenarannya. Sehingga kemajuan negara akan berkembang, dan kualitas negara akan meningkat.
Oke kawan, bagaimanakah dengan dirimu.. sudah siapkah untuk menulis? Sudah siapkah tulisanmu menjadi sejarah? Mulailah dari sekarang. Karena seribu langkah akan diawali dengan satu langkah awal. Tak lupa, semuanya diniati untuk mengharap ridha Allah ya, menulis juga ada rambu-rambu yang harus dipatuhi lho. Itu semua untuk kebaikan dirimu dan tulisanmu juga. Akhir kata, saya ucapkan selamat menulis, selamat berkarya, menciptakan sejarah, dan salam meningkatkan kualitas bangsa!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar