Pagi, setelah bangun tidur dan
mengerjakan beberapa kewajiban aku melihat suatu kisah menarik di televisi.
Kisah tentang seorang pengelana yang menjelajahi dunia. Di kisah itu, terdapat
beberapa gambaran perjalanan di berbagai negara, seperti China, Mesir bahkan
cerita tentang Indonesia ada juga. Sang pengelana yang berasal dari negeri
timur tengah itu mengelana berawal dari perintah raja agar menjelajahi dunia
untuk mengetahui keadaan dunia waktu itu, yang diilhami dari ayat kitab suci
yang menganjurkan agar kita berkelana di muka bumi. Sang pengelana itu adalah
Ibnu Batuttah.
Kisah Ibnu Batuttah di televisi pagi
itu cukup menarik minat saya, karena di film favorit saya, Negeri 5 Menara, terdapat kisah tentang beliau yang digambarkan
menarik, sehingga semakin tergugah rasa penasaranku untuk mengenal lebih jauh
tentang beliau. Beliau menjelajahi dunia selama kurang lebih 30 tahun. Daerah
pengelanaan beliau dari benua Asia, Eropa bahkan Afrika. Di salah satu bagian
cerita, diceritakan bahwa beliau pernah mengunjungi wilayah Indonesia, tepatnya
di Aceh yang pada saat itu wilayah Aceh dikuasai oleh kerajaan Samudera Pasai.
Petualangan beliau keliling dunia ini menggugah diriku pada suatu saat nanti untuk
melakukan perjalanan keliling dunia. Dan insyaAllah Man Jadda wa Jadda,
insyaAllah akan berusaha keras agar diwujudkan. Aamiin.
By the way, kalau mengingat Ibnu
Batuttah maka akan mengingat tentang sejarah masa lampau. Setiap kebenaran
pasti ada buktinya, dan untuk membuktikan kebenaran sejarah dibutuhkan bukti
otentik berupa tulisan yang mengkisahkan tentang hal itu. Di sepanjang
perjalanan yang Ibnu Batuttah lalui, beliau membuat catatan hasil berkelananya untuk
kemudian diserahkan kepada raja yang memerintahkannya berkelana dahulu. Dalam
catatan itu, tercatat keadaan daerah yang dikunjunginya, penduduk, budaya,
sistem pemerintahan dan lain-lain. Siapa sangka, ternyata tulisan beliau selama
perjalanan itu pada akhirnya menjadi suatu sumber sejarah dunia pada masa
sekarang. Catatan itu menjadi sumber sejarah dunia otentik dan dipercaya
kebenarannya.
Hal tersebut memberikan makna,
bahwa suatu keadaan atau peristiwa, ilmu atau apapun akan menjadi lebih berharga
dan bermakna apabila ditulis. Seperti dalam salah satu quote favorit saya yang
berasal dari Ali bin Abi Thalib, “ikatlah ilmu dengan menulis”, dengan menulis
kita akan menjadikan ilmu lebih kekal manfaatnya. Dengan tulisan itu kita akan
tetap mampu menyuarakan aspirasi kita sepanjang masa (selagi tulisan kita masih
ada), walaupun kita sudah tiada atau tidak berjumpa langsung dengan pembaca di
masa depan kelak.
Sesuai dengan sifat manusia yaitu
mudah lupa, apabila ia tidak menulis ilmu yang sekarang ia dapatkan besar
kemungkinan ia akan lupa apabila ditanyakan kembali ilmu tersebut di waktu
selanjutnya. Sebaliknya apabila ia menulisnya, maka pada akhirnya ilmu yang ia
dapatkan itu akan dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain,
karena tulisan itu dapat dibaca oleh siapapun juga. Sehingga sebagai seorang pelajar
sudah seharusnya kita gemar menulis
Bagi sebagian orang menulis itu
mungkin susah, sebagian orang lagi menganggap menulis itu mudah dan
menyenangkan. Namun sesulit apapun menulis itu, jika kita mau berusaha untuk
memulai dan belajar menulis insyaAllah akan bisa menulis dengan baik. Pada
awalnya dulu saya juga tidak begitu suka menulis, namun ada beberapa hal yang
membuat saya menjadi suka menulis. Hal pertama adalah ketika mengerti dan
membaca-baca profil kakak inspirator saya di facebook, eits kakak saya ini
seorang perempuan lho ia gemar menulis dan seringkali update status atau
profpict untuk menjadi seorang penulis, memang dari dulu saya mengagumi mbak saya ini
akhirnya saya mulai suka menulis. Kemudian saat mengetahui manfaat menulis
lebih lanjut, sehingga semakin memotivasi untuk menulis. Faktor orang yang kita
favoritkan berpengaruh pada diri kita, kita akan lebih mudah meniru perilaku
mereka dibandingkan meniru orang lain yang tidak kita sukai. Jadi teman-teman
kalau memilih seseorang yang disukai, milih yang baik sekalian ya, baik
akhlaknya perilaku, dan juga aqidahnya. Sehingga semakin mudah bagi kita untuk
berbuat kebaikan.
Kalau kawan-kawan masih bingung
bagaimana agar membuat tulisan yang baik, mulailah dengan mencoba menulis yang
ringan, seperti menulis buku harian, catatan sekolah, maupun catatan kejadian
sehari-hari yang berkesan dan tidak berkesan dalam beberapa hari ini. Menulisnya
dengan santai saja dan tidak usah ada perasaan takut salah menulis. Tulislah
semua kata-kata yang terlintas dalam pikiran. Hal yang paling utama dalam
menulis adalah perasaan nyaman. Dari
perasaan nyaman itu, secara tidak langsung semakin banyak hal yang kita tulis,
sehingga apabila kenyamanan itu terus berlanjut mulailah kita merasa jatuh
cinta dengan dunia menulis. Pada awalnya dulu saya juga ogah-ogahan menulis,
rasanya semangat menggebu-gebu untuk menulis, tetapi setelah nulis beberapa
kalimat sudah hilang semangat karena bingung bagaimana kata-kata untuk
melanjutkannya. Jadi menulis jangan terlalu perfeksionis harus begini-begitu,
alirkanlah kata-kata yang terlewat dalam pikiran, dan yang penting lagi
konsisten untuk melanjutkannya sampai akhir.
Setelah selesai menulis, cobalah
baca ulang tulisanmu. Saat membaca-baca ulang baru lakukan proses editing. Pengoreksian
ejaan, penempatan kata, penambahan atau pengurangan kata serta pembenahan struktur
kalimat dari tulisanmu itu. Cobalah untuk melakukannya secara rutin setiap
hari. Karena insyaAllah sesuatu yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan, dan
kita akan semakin ketagihan untuk menulis. Seperti dengan proses belajar
conditioning, suatu kegiatan yang berulang-ulang akan menjadi suatu kebiasaan
yang sulit untuk dihilangkan. Jika sudah menjadi kebiasaan akan menjadi
perilaku dan sifat, jika suka menulis sudah menjadi sifat, maka akan mudah bagi
kita untuk menjadi penulis yang produktif. Maka dari itu, mari mulai menulis!
Dari tulisan sederhana sehari-hari
itu, siapa tahu tulisan itu bermanfaat bagi dirimu kelak. Barangkali kamu lupa
akan pengalaman masa lalumu, kemudian saat kamu baca tulisanmu itu bisa kamu
jadikan bahan untuk bercerita kepada anak-anakmu kelak sebagai bahan pelajaran.
Atau mungkin bisa bermanfaat bagi orang di sekelilingmu kelak seperti catatan
Ibnu Batuttah yang kemudian menjadi sumber sejarah di masa depan.
Setelah berhasil menulis
pengalaman sehari-hari dengan baik, biasanya akan ada perasaan untuk ingin memulai
menulis hal-hal yang agak berat, seperti pandanganmu terhadap suatu
permasalahan, tips-tips, pengetahuan, dan lain sebagainya. Yap, menulis itu
suatu proses. Dimulai dari tingkat rendah menuju ke atas. Dari awalnya tidak
suka, akan menjadi suka. Ingat pula Man jadda wa jadda, siapa yang bersungguh-sungguh
insyaAllah akan berhasil. Jika kita mau bersungguh-sungguh dalam melakukan
sesuatu, terlebih adalah menulis insyaAllah kita akan menjadi seorang yang ahli
dalam menulis. Dari menulis cerita sehari-hari yang hanya beberapa lembar,
siapa tahu nanti akan berkembang menjadi menulis buku yang halamannya beratus
dan beribu lembar.
Oia kawan, kualitas bangsa itu
dapat dilihat dari berapa banyak buku yang diterbitkan dalam negara itu lho.
Jumlah buku itu nantinya dibandingkan dengan jumlah penduduk, sehingga didapatkan
suatu perbandingan jumlah buku per penduduk. Mengapa kualitas negara ditentukan
dari banyaknya jumlah buku? Hal ini dikarenakan buku adalah sumber pengetahuan.
Buku adalah jendela ilmu dan pengetahuan sehingga orang yang menulis buku
mestilah orang yang berkualitas dalam bidang pengetahuan itu. Orang yang mampu
menulis buku, berarti juga mampu untuk mengutarakan pemikiran cemerlangnya
untuk diketahui orang-orang di sekitarnya. Apabila tulisannya itu mampu
menggerakkan orang lain, maka orang lain akan berusaha paling tidak melakukan
apa yang ada dalam buku itu. Kemajuan bangsa akan semakin mudah dicapai, karena
semakin banyaknya orang yang berkualitas yang pada akhirnya menggerakkan penduduk
lainnya dalam beraktivitas dan bekerja dengan landasan yang benar dan teruji
kebenarannya. Sehingga kemajuan negara akan berkembang, dan kualitas negara
akan meningkat.
Oke kawan, bagaimanakah dengan
dirimu.. sudah siapkah untuk menulis? Sudah siapkah tulisanmu menjadi sejarah?
Mulailah dari sekarang. Karena seribu langkah akan diawali dengan satu langkah
awal. Tak lupa, semuanya diniati untuk mengharap ridha Allah ya, menulis juga
ada rambu-rambu yang harus dipatuhi lho. Itu semua untuk kebaikan dirimu dan
tulisanmu juga. Akhir kata, saya ucapkan selamat menulis, selamat berkarya,
menciptakan sejarah, dan salam meningkatkan kualitas bangsa!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar