Siang, hari ketiga di rumah, Aku duduk-duduk di teras rumah, sambil membawa lepi mau nulis sesuatu
untuk postingan di blog..Eh saat melihat ke samping ada segerombolan anak
kecil, yang satu berusaha ambil rambutan dengan dilempari pakai batu, ada pula
yang naik ke pagar pot untuk meraihnya. Sesaat kemudian salah satu anak
melihatku, eh kemudian mereka beranjak pergi padahal cuma aku liatin doang.
Mungkin mereka takut aku marahi, padahal ya kalau mereka izin dahulu sebelum
ambil rambutan ga apa-apa lho ambil rambutannya. Hehe dasar anak-anak kecil.
Kalau lihat anak-anak kecil yang lagi ambil buah rambutan di
kebun samping rumah itu, diriku jadi keingat dengan masa kecilku dahulu. Yup
sebagai seorang anak kecil yang tumbuh di desa sudah menjadi sebuah kebiasaan
main berpetualang kesana-kemari. Dari halaman depan rumah, ke kebun, sawah
(jarang sih), halaman belakang rumah dan lain-lain. Kegiatan utama disana ya
main, buat rumah-rumahan, mencari buah, daun wadang, cari bunga kopi, biji
palem dan terkadang cari jamur yang enak dimakan juga. Hoho, anak di desa
mainannya asik-asik juga lho, bisa buat rumah-rumahan dari daun dan ranting,
terus masak-masakan dari batang pohon pisang. Benar-benar melatih kreativitas
dan seru. Mengenang masa-masa itu membuatku tersenyum-senyum dalam hati, ternyata
ada hal-hal yang istimewa dalam masa kecilku ini yang mungkin di tempat lain ga
ada ya.
Masa kecilku sebagian besar dihabiskan di desa ini, di
sebuah desa di pelosok kabupaten kediri. Sebenarnya juga tidak pelosok-pelosok
amat sih, karena jarak dengan kota sekitar 15 km lah. Walaupun desaku di pelosok, dan tidak seramai atau
fasilitasnya tidak sebagus di kota besar seperti Surabaya atau Jakarta, aku
bangga dan senang lho tinggal di desaku ini. Bagaimana tidak, setiap hari Alhamdulillah
dapat menghirup udara segar setiap hari, dapat makanan yang sehat dan terjamin
kualitasnya (karena sebagian bahan makanan didapat dari kebun sendiri), bisa
lebih berkreativitas, dekat dengan alam, dan suasana desa yang tenang. Aku
pernah baca lho, kalau anak kecil yang dibesarkan di daerah yang memiliki udara
segar maka kualitasnya lebih baik daripada anak kecil yang dibesarkan di
lingkungan udara yang berpolusi. Makanya aku bersyukur banget, dibesarkan di
desa yang berudara segar ini, jauh dari polusi asap motor dan lain-lain.
Apalagi kalau sedang musim penghujan seperti ini, wah udaranya tambah segar nih : )
Selain udaranya yang segar, di desaku ini banyak hewan-hewan
khas yang menambah kesan suasana desa yang menyenangkan lho. Setiap menjelang
siang ada suara sejenis kumbang yang nyaring suaranya, diselingi suara ayam
yang berkokok, dan burung-burung yang berkicau. Wah menyenangkan sekali ya : ) kalau lagi beruntung
kadang dapat melihat kupu-kupu lho. Oia, aku kok heran ya, dulu waktu kecil aku
sering main nangkap kupu-kupu, sekarang kok kupu sudah jarang aku temui ya.
Bicara masalah kupu juga, dahulu nangkap kupu pakai jaring
yang dibuat sendiri atau pakai besek. Tahu kan besek? Besek itu sejenis wadah
plastik yang ada rongga-rongganya. Lha nanti kalo kupunya kena, dimasukin kupu
itu deh ke dalam beseknya. Zaman dahulu kupu-kupunya macam-macam. Ada kupu
hijau yang segar warnanya, kupu putih kecil yang lembut, sampai kupu yang
sayapnya indah banget seperti kupu gajah dan kupu gemerlap yang apabila
sayapnya bergerak seperti berkilau menyala warnanya (aku ga tahu namanya,
hehe). Kalau kupu gajah itu istimewa, warnanya macam-macam plus ukurannya besar
pula. Suatu kebanggan apabila bisa menangkap kupu gajah itu. Karena dia itu
selain besar dan cantik, ia lincah sobat. Tapi sayangnya sekarang aku sudah
tidak menemukan kupu-kupu seperti kupu gajah itu sobat. Kemana ya mereka?
padahal aku pengen lihat mereka juga lho. Apa gara-gara sekarang musim hujan
ya, akhirnya mereka masih jadi ulat yang makan daun-daun ijo itu, atau bukan
musimnya atau bagaimana ya? Wis harapanku semoga mereka ga hilang atau punah
saja (ah lebay kalo sampai punah :p)
Oia sobat, dulu waktu kecil aku juga sering main
binatang-binatang kecil seperti kepik, kemudian semacam serangga yang warnanya
unik lho, seperti ornamen ukirannya orang papua dan ia berwarna perpaduan oranye
n hitam. Selain itu aku dulu juga sering main ulat daun pisang. Kalau
mengingatnya aku jadi kepikiran, dulu ternyata aku pernah ga jijik sama ulat,
kalau sekarang liat ulat sedikit, langsung deh bergidik. Hehe..
Kemudian aku waktu kecil suka ngumpulin daun wadang, tahu ga
sobat tentang daun wadang? Daun wadang ini berasal dari pohon wadang yang masih
muda dan tidak terlalu tinggi pohonnya. Daun yang diambil tidak sembarang daun
lho, daun yang diambil itu daun yang masih muda. Nah nanti daun yang masih muda
itu dapat dikelupas sisi bagian bawah daun itu yang berwarna putih. Lalu
kelupasan putih itu dibuat bola-bolanan. Oia, kalau memilih daun wadang jangan
terlalu muda dan jangan pula yang terlalu tua lho. Kalau terlalu muda nanti
sulit dikupas, karena lapisan putih seperti kapas itu masihlah rapuh dan belum
kuat. Sedangkan daun yang sudah agak tua sampai tua nanti lapisan kapas itu
sulit untuk diambil karena sudah melekat sama daun. Bola-bolanan yang berasal
dari kapas daun wadang itu hasilnya nanti empuk sobat. Aku sudah beberapa kali
lho buat bola sampai hampir seukuran bola kasti, dan lebih seringnya lagi buat
sampai seukuran bola bekel. Hehe. Lalu saat aku masih kecil dulu ada mitos sih
kalau bola gulungan itu dimasukkan kedalam minyak tanah maka dapat memiliki
elastisitas kaya bola kasti. Pernah deh, entah aku apa tetanggaku , sudah buat
bola ukurannya lumayan gede, dimasukkan ke dalam minyak tanah eh jadinya malah
rusak, penampakannya jadi tidak karuan. Harapannya agar memiliki elastisitas eh
malah rusak. Yah sayang banget waktu itu, dan kecewa juga.
insyaAllah bersambung ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar