Kamis, 14 Februari 2013

Amazing Surabaya-Kediri


Amazing surabaya-kediri

Kemarin, senin 14 januari 2013 aku pulang kampung bersama kakak kandungku, sebut saja namanya mas Haqie. Aku sama mas Haqie pulang naik motor, dan hanya berdua saja tidak dengan kakakku yang satunya, (sebut saja namanya) yaitu mas Pras. Karena biasanya kalau ada libur bareng aku, maas Haqie n mas Pras pulang bareng bertiga naik sepeda motor, hehe.  Kami berangkat dari Surabaya sekitar jam 14.30, dengan sebelumnya mampir dulu di rumah kontrakannya mas Pras untuk mengambil barang bawaan mas Haqie yang memang sebelumnya dititipkan di kontrakan mas Pras. Eng ing eng... Setelah mas Haqie selesai mengambil barang itu, kami pun berangkat menuju tempat kelahiran tercinta..  Kediri : )

Biasanya kalau perjalanan Surabaya-Kediri  membutuhkan waktu sekitar 4 jam kalau naik kereta, 4 jam kalau naik bus (itupun kalau tidak macet), dan kalau naik sepeda motor paling cepat sekitar 3 jam.an. pulang naik sepeda motor itu asyik lho, bisa melihat-lihat pemandangan sekitar sambil merasakan udara sejuk daerah sekitar jalan itu secara langsung. Namun, keasyikan itu tidak banyak kualami saat pulang kemarin. Bagaimana hal itu terjadi? Simak ceritaku selanjutnya : )

Kemarin sore waktu berangkat cuaca kota Surabaya mendung, namun belum turun hujan..baru saat sampai di daerah dekat Bungurasih hujan mulai turun. Hujan pertama dalam perjalanan ini pada walnya  tidak begitu deras, namun lama-kelamaan tambah deras, sehingga kakak memutuskan untuk “minggir” dahulu ke tepi jalan untuk memakai mantel. Saat itu kebetulan sekali mantel yang kami bawa hanya satu, itupun mantel kelelawar yang pas buat satu orang, bukan untuk dua orang. Akhirnya kakak memutuskan agar aku saja yang memakai mantel, dengan pertimbangan kalau kakak yang memakai mantel nanti akan susah kalau dipakai mengendarai motor. Dengan terpaksa akhirnya aku pakai deh mantel itu, walaupun sesungguhnya aku kasihan lihat kakakku hanya dilindungi jaket kulitnya dan helm balap menerjang derasnya hujan.
Seringkali di jalan kami terciprati dengan percikan air dari kendaraan lain yang melintas. Tapi mau tidak mau kami harus tetap melaju untuk pulang. Keadaan jalan waktu itu tidak semudah saat musim kemarau, genangan air ada dimana-mana, jadi harus hati-hati saat di jalan. Karena kadang dibalik genangan air ada jalan yang bergelombang dan rusak. Jadi saat dibonceng kakak diriku was-was, kadang saat melewati genangan air agak “meleyang” begitu jalannya, kena jalan yang rusak. Selain itu aku agak takut juga, soalnya banyak kendaraan besar-besar seperti truk, dan juga kontainer yang melintas disamping kami. Kemudian keadaan jalan yang berair seingatku berbahaya bagi kendaraan yang melaju dengan kencang (pada saat itu kami ngebut juga) takutnya nanti kalau tergelincir. Namun Alhamdulillah selama di jalan tidak ada halangan, ada pun satu kali saat rantai sepeda kendur, jadi harus “minggir” lagi untuk membenahinya.

Oh iya sobat, tahu ga sih kalau sepanjang perjalanan dari sidoarjo sampai kediri (derah plosoklaten) daerah  yang kami lewati hujan terus? Hujannya macam-macam, ada yang deras, rintik-rintik, ada yang sedangan juga. Yang pasti membuat kami berkutat dengan air selama kurang lebih 4 jam. Waw sungguh amazing, benar-benar pengalaman yang berkesan. Namun dalam hati, aku tidak ingin mengulanginya lagi. Bagaimana tidak berarti selama kurang lebih 3-4 di jalan kami kehujanan terus. Kedinginan so pasti, namun ga apa lah, toh kami sudah kehujanan lebih baik meneruskan perjalanan saja.

Oia sobat, dari perjalanan kemarin itu aku mendapatkan pelajaran penting lho sob. Tahu ga sob, kalau kakak itu akan berusaha agar adiknya tidak merasakan sakit, tidak kesusahan dan ingin melindungi adiknya. Aku bersyukur memiliki kakak kandung seperti kakakku ini. Mereka baik dan perhatian kepadaku saat di Surabaya, selalu berusaha agar adiknya selamat. Mengantar adik kemana saja saat luang, membelikan nasi, menjemput, meminjamkan uang, dan lain-lain. Intinya mau rela berkorban untuk adiknya. Alhamdulillah, suatu salah satu nikmat yang patut disyukuri. Oia satu lagi, ada satu hal tentang  pengorbanan. Kak Haqie rela mengorbankan tidak memakai mantel, padahal posisinya di depan so pasti ia mendapat paparan air yang lebih banyak daripada aku. Wah rasanya gimana gitu, terharu juga, kakakku telah banyak berkorban untukku.

Pelajaran lainnya adalah tentang kerja. Saat di jalan aku lihat para pedagang yang menutupi keranjang jualan mereka dengan mantel, dan tetap menerjang melawan air hujan yang turun. Aku terharu, karena mereka, para bapak, bekerja dengan keras untuk mendapatkan uang. Mereka rela bekerja walaupun dengan resiko yang besar seperti itu, dalam benakku mungkin keluarga mereka di rumah sedang menunggu uang hasil jerih payah mereka. wis intinya, sikap rela berkorban dan semangat mereka luar biasa ya.

Aku juga sempat lihat bapak-bapak yang bawa sepedah mengayuh sepedahnya di jalur yang banyak truk. Mereka rela lho mengayuh sepedah mereka dengan keranjang berisi jagung rebus maupun lainnya yang tidak terlihat oleh pandanganku. Hal ini membuatku termenung dan akhirnya beranggapan bahwa di dunia ini apapun pekerjaan seseorang itu sungguh mulia, asalkan dengan cara yang halal. Kita juga harus tetap menghargai usaha orang lain. Tak memandang sebelah mata kepada orang lain. Oke mungkin keadaan kita sekarang Alhamdulillah mudah, namun masa depan siapa yang tahu? Takdir itu benar-benar kuasa Allah, kita tidak boleh bersikap arogan kepada orang lain. Saya sendiri sudah banyak mendengar cerita maupun melihat dengan kondisi teman-teman saya. Teman-teman saya yang sederhana dan bersikap baik dipermudah dalam hal kuliahnya. Alhamdulillah ya.

Yah, masa depan tak ada yang mengerti. Tapi insyaAllah masih ada cara untuk merubah keadaan kita. yaitu dengan berubah. Ingat kan sobat, dalam surat Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, selagi kaum itu tidak mau mengubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri. Sebuah ayat yang benar-benar ingin saya tanamkan dalam diri saya, dimulai waktu MTs, karena selain dalam pelajaran pernah mempelajari tentang ayat itu, di gerbang depan sekolah yang menghadap belakang terpampang ayat tersebut sehingga waktu pulang sekolah dapat melihat dan membaca ayat tersebut. Subhanallah keren ya : ) benar-benar memotivasi siswa yang bersekolah dan ketika pulang mau merubah apa yang ada dalam dirinya untuk mendapat suatu kebaikan.

Balik lagi ke cerita tentang amazing Surabaya-Kediri. Ternyata tidak hanya di daerah perkotaan saja, di daerah kabupaten/kota kecil banjir masih menjadi masalah ya saat musim penghujan. Terbukti nih di daerah pedesaan yang saya lewati banyak genangan-genangan air yang ada di jalan. Menurutku hal ini disebabkan oleh kurangnya fasilitas parit di pinggir jalan. Atau mungkin keadaan parit yang kurang berfungsi dengan baik. Misalnya saja di suatu daerah desa, di pinggir jalan raya tidak ada parit sehingga air menggenangi pinggir-pinggir jalan, ada lagi di salah satu jalan ada parit sih tapi kayaknya saluran pembuanga air ke parit tidak berfungsi jadi air tetap menggenangi pinggir jalan. Wah aku jadi sempat kepikiran nih pengen jadi seorang praktisi di bidang tata kelola beginian ya, hehehe..

Oke sobat, kayaknya cerita tentang amazing Surabaya-Kediri benar-benar amazing banget ya, selama 4 jam.an kehujanan, kemudian mendapatkan pelajaran yang luar biasa, dan keinginan untuk memperbaiki keadaan negeri kita. Karena, sesungguhnya Indonesia itu amazing banget lho kalau dimanfaatin dengan baik pula. Tanah yang subur, negeri yang menyimpan berjuta-juta kekayaan yang tidak dimiliki oleh negara lain, sangat disayangkan kalau dibiarkan begitu saja. Oh iya, satu pelajaran lagi, dibalik kesusahan ada kemudahan, dibalik kekurangan ada kelebihan. Akhirnya aku bersyukur pernah mengalami kejadian kehujanan saat pulang kampung, karena pada akhirnya Alhamdulillah aku mendapatkan pelajaran dan inspirasi yang keren abis. Hehe

Kalau ada kritik saran, komentar atau mau curhat tentang pengalaman sobat komentar ya  : )  komentar sobat sangat diperlukan dalam perbaikan tulisan ini kedepannya. Matur suwun : )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar