Amazing surabaya-kediri
Kemarin, senin 14 januari 2013 aku pulang kampung bersama
kakak kandungku, sebut saja namanya mas Haqie. Aku sama mas Haqie pulang naik
motor, dan hanya berdua saja tidak dengan kakakku yang satunya, (sebut saja
namanya) yaitu mas Pras. Karena biasanya kalau ada libur bareng aku, maas Haqie
n mas Pras pulang bareng bertiga naik sepeda motor, hehe. Kami berangkat dari Surabaya sekitar jam
14.30, dengan sebelumnya mampir dulu di rumah kontrakannya mas Pras untuk
mengambil barang bawaan mas Haqie yang memang sebelumnya dititipkan di
kontrakan mas Pras. Eng ing eng... Setelah mas Haqie selesai mengambil barang
itu, kami pun berangkat menuju tempat kelahiran tercinta.. Kediri : )
Biasanya kalau perjalanan Surabaya-Kediri membutuhkan waktu sekitar 4 jam kalau naik
kereta, 4 jam kalau naik bus (itupun kalau tidak macet), dan kalau naik sepeda
motor paling cepat sekitar 3 jam.an. pulang naik sepeda motor itu asyik lho,
bisa melihat-lihat pemandangan sekitar sambil merasakan udara sejuk daerah
sekitar jalan itu secara langsung. Namun, keasyikan itu tidak banyak kualami
saat pulang kemarin. Bagaimana hal itu terjadi? Simak ceritaku selanjutnya : )
Kemarin sore waktu berangkat cuaca kota Surabaya mendung,
namun belum turun hujan..baru saat sampai di daerah dekat Bungurasih hujan
mulai turun. Hujan pertama dalam perjalanan ini pada walnya tidak begitu deras, namun lama-kelamaan tambah
deras, sehingga kakak memutuskan untuk “minggir” dahulu ke tepi jalan untuk
memakai mantel. Saat itu kebetulan sekali mantel yang kami bawa hanya satu,
itupun mantel kelelawar yang pas buat satu orang, bukan untuk dua orang.
Akhirnya kakak memutuskan agar aku saja yang memakai mantel, dengan
pertimbangan kalau kakak yang memakai mantel nanti akan susah kalau dipakai
mengendarai motor. Dengan terpaksa akhirnya aku pakai deh mantel itu, walaupun
sesungguhnya aku kasihan lihat kakakku hanya dilindungi jaket kulitnya dan helm
balap menerjang derasnya hujan.
Seringkali di jalan kami terciprati dengan percikan air dari
kendaraan lain yang melintas. Tapi mau tidak mau kami harus tetap melaju untuk
pulang. Keadaan jalan waktu itu tidak semudah saat musim kemarau, genangan air
ada dimana-mana, jadi harus hati-hati saat di jalan. Karena kadang dibalik
genangan air ada jalan yang bergelombang dan rusak. Jadi saat dibonceng kakak
diriku was-was, kadang saat melewati genangan air agak “meleyang” begitu
jalannya, kena jalan yang rusak. Selain itu aku agak takut juga, soalnya banyak
kendaraan besar-besar seperti truk, dan juga kontainer yang melintas disamping
kami. Kemudian keadaan jalan yang berair seingatku berbahaya bagi kendaraan
yang melaju dengan kencang (pada saat itu kami ngebut juga) takutnya nanti
kalau tergelincir. Namun Alhamdulillah selama di jalan tidak ada halangan, ada
pun satu kali saat rantai sepeda kendur, jadi harus “minggir” lagi untuk
membenahinya.
Oh iya sobat, tahu ga sih kalau sepanjang perjalanan dari
sidoarjo sampai kediri (derah plosoklaten) daerah yang kami lewati hujan terus? Hujannya
macam-macam, ada yang deras, rintik-rintik, ada yang sedangan juga. Yang pasti
membuat kami berkutat dengan air selama kurang lebih 4 jam. Waw sungguh
amazing, benar-benar pengalaman yang berkesan. Namun dalam hati, aku tidak
ingin mengulanginya lagi. Bagaimana tidak berarti selama kurang lebih 3-4 di
jalan kami kehujanan terus. Kedinginan so pasti, namun ga apa lah, toh kami
sudah kehujanan lebih baik meneruskan perjalanan saja.
Oia sobat, dari perjalanan kemarin itu aku mendapatkan
pelajaran penting lho sob. Tahu ga sob, kalau kakak itu akan berusaha agar
adiknya tidak merasakan sakit, tidak kesusahan dan ingin melindungi adiknya.
Aku bersyukur memiliki kakak kandung seperti kakakku ini. Mereka baik dan
perhatian kepadaku saat di Surabaya, selalu berusaha agar adiknya selamat.
Mengantar adik kemana saja saat luang, membelikan nasi, menjemput, meminjamkan
uang, dan lain-lain. Intinya mau rela berkorban untuk adiknya. Alhamdulillah,
suatu salah satu nikmat yang patut disyukuri. Oia satu lagi, ada satu hal
tentang pengorbanan. Kak Haqie rela
mengorbankan tidak memakai mantel, padahal posisinya di depan so pasti ia mendapat
paparan air yang lebih banyak daripada aku. Wah rasanya gimana gitu, terharu
juga, kakakku telah banyak berkorban untukku.
Pelajaran lainnya adalah tentang kerja. Saat di jalan aku
lihat para pedagang yang menutupi keranjang jualan mereka dengan mantel, dan
tetap menerjang melawan air hujan yang turun. Aku terharu, karena mereka, para
bapak, bekerja dengan keras untuk mendapatkan uang. Mereka rela bekerja walaupun
dengan resiko yang besar seperti itu, dalam benakku mungkin keluarga mereka di
rumah sedang menunggu uang hasil jerih payah mereka. wis intinya, sikap rela
berkorban dan semangat mereka luar biasa ya.
Aku juga sempat lihat bapak-bapak yang bawa sepedah mengayuh
sepedahnya di jalur yang banyak truk. Mereka rela lho mengayuh sepedah mereka
dengan keranjang berisi jagung rebus maupun lainnya yang tidak terlihat oleh
pandanganku. Hal ini membuatku termenung dan akhirnya beranggapan bahwa di
dunia ini apapun pekerjaan seseorang itu sungguh mulia, asalkan dengan cara
yang halal. Kita juga harus tetap menghargai usaha orang lain. Tak memandang
sebelah mata kepada orang lain. Oke mungkin keadaan kita sekarang Alhamdulillah
mudah, namun masa depan siapa yang tahu? Takdir itu benar-benar kuasa Allah,
kita tidak boleh bersikap arogan kepada orang lain. Saya sendiri sudah banyak
mendengar cerita maupun melihat dengan kondisi teman-teman saya. Teman-teman
saya yang sederhana dan bersikap baik dipermudah dalam hal kuliahnya. Alhamdulillah ya.
Yah, masa depan tak ada yang mengerti. Tapi insyaAllah masih
ada cara untuk merubah keadaan kita. yaitu dengan berubah. Ingat kan sobat,
dalam surat Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, selagi kaum itu tidak
mau mengubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri. Sebuah ayat yang benar-benar
ingin saya tanamkan dalam diri saya, dimulai waktu MTs, karena selain dalam
pelajaran pernah mempelajari tentang ayat itu, di gerbang depan sekolah yang
menghadap belakang terpampang ayat tersebut sehingga waktu pulang sekolah dapat
melihat dan membaca ayat tersebut. Subhanallah keren ya : ) benar-benar memotivasi siswa
yang bersekolah dan ketika pulang mau merubah apa yang ada dalam dirinya untuk
mendapat suatu kebaikan.
Balik lagi ke cerita tentang amazing Surabaya-Kediri.
Ternyata tidak hanya di daerah perkotaan saja, di daerah kabupaten/kota kecil
banjir masih menjadi masalah ya saat musim penghujan. Terbukti nih di daerah
pedesaan yang saya lewati banyak genangan-genangan air yang ada di jalan.
Menurutku hal ini disebabkan oleh kurangnya fasilitas parit di pinggir jalan.
Atau mungkin keadaan parit yang kurang berfungsi dengan baik. Misalnya saja di
suatu daerah desa, di pinggir jalan raya tidak ada parit sehingga air
menggenangi pinggir-pinggir jalan, ada lagi di salah satu jalan ada parit sih
tapi kayaknya saluran pembuanga air ke parit tidak berfungsi jadi air tetap
menggenangi pinggir jalan. Wah aku jadi sempat kepikiran nih pengen jadi
seorang praktisi di bidang tata kelola beginian ya, hehehe..
Oke sobat, kayaknya cerita tentang amazing Surabaya-Kediri
benar-benar amazing banget ya, selama 4 jam.an kehujanan, kemudian mendapatkan
pelajaran yang luar biasa, dan keinginan untuk memperbaiki keadaan negeri kita.
Karena, sesungguhnya Indonesia itu amazing banget lho kalau dimanfaatin dengan
baik pula. Tanah yang subur, negeri yang menyimpan berjuta-juta kekayaan yang
tidak dimiliki oleh negara lain, sangat disayangkan kalau dibiarkan begitu
saja. Oh iya, satu pelajaran lagi, dibalik kesusahan ada kemudahan, dibalik
kekurangan ada kelebihan. Akhirnya aku bersyukur pernah mengalami kejadian
kehujanan saat pulang kampung, karena pada akhirnya Alhamdulillah aku
mendapatkan pelajaran dan inspirasi yang keren abis. Hehe
Kalau ada kritik saran, komentar atau mau curhat tentang
pengalaman sobat komentar ya : )
komentar sobat sangat diperlukan dalam perbaikan tulisan ini kedepannya. Matur
suwun : )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar