Kamis, 14 Februari 2013

Suatu hari di negeri impi niata



Pagi itu, kereta bergerbong sebanyak delapan belas yang ditunggu-tunggu pun tiba juga. Setelah sekian lama menanti, akhirnya kereta berwarna biru donker itu datang denga. Di semua gerbong kereta terdapat satu stiker unik yang bertuliskan kaligrafi angka empat, namun hanya pada gerbong ketiga yang bertuliskan kaligrafi angka dua lima. Kereta itu memang unik. Ia merupakan kereta berasal dari negeri yang bernama telaga jernih. Sang pemilik kereta itu sengaja memberikan stiker-stiker unik tersebut untuk menghargai usaha dari pekerjanya yang telah berusaha membuat gerbong kereta itu siang malam dengan tekun.
Saat tiba di stasiun Alasramai, terdengar suara peluit kereta yang nyaring. Di sela-sela peluit itu samar-samar terdengar ucapan menyerupai “Alhamdulillah”, dan semakin mendekat itu semakin terdengar jelas dan memang merupakan suara “Alhamdulillah”. Usut punya usut, suara itu diucapkan oleh sang pekerja yang membuat kereta itu. Ia ingin agar sang keluarga yang menunggu di kereta tahu bahwa ia datang bersama kereta yang berhiaskan kaligrafi penghargaan dari pemilik kereta yang telah dirancangnya itu. Sang keluarga yang sudah menunggu itu pun gembira mengetahui kedatangan sang pekerja itu lewat ucapannya. Mereka menyambutnya dengan mengucap syukur Alhamdulillah. Suasana stasiun pun mendadak riuh karena suara gemuruh dari para keluarga itu. Maklumlah sang pekerja itu telah meninggalkan rumah jauh-jauh dan jarang pulang untuk merancang kereta. Dan ternyata oleh kebaikan sang pemilik kereta, kereta buatan sang pekerja itu dengan sengaja diberikan kepada orang tua sang pekerja sebagai hadiah atas prestasi kerjanya secara cuma-cuma.
Saat kereta sudah berhenti, sang pekerja pun turun. Ia disambut dengan senyuman dari bundanya. Begitu pula dengan ayahandanya. Ayahandanya menerima sebuah surat dari sang pemilik kereta itu yang bertuliskan tentang tiga koma sembilan karat permata yang juga dihadiahkan oleh sang pekerja kepada kedua orang tuanya. Semuanya yang mengetahui tentang hal ini bahagia, begitu pula dengan sang pekerja.
Bersambung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar